Categories: Humanoria

Simak! Ini Keutamaan dan Hikmah Puasa Tasu’a

Puasa Tasu’a juga dapat mencegah seseorang mengkhususkan puasa hanya pada hari Asyura semata, sebagaimana larangan mengkhususkan puasa pada hari Jumat tanpa disertai hari sebelumnya atau sesudahnya.

Syekh Zakariya al-Anshari (wafat 926 H) dalam kitabnya menjelaskan:

وَحِكْمَةُ صَوْمِ تَاسُوعَاءَ مَعَهُ الِاحْتِيَاطُ لَهُ وَالْمُخَالَفَةُ لِلْيَهُودِ وَالِاحْتِرَازُ مِنْ إفْرَادِهِ بِالصَّوْمِ كَمَا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ

“Hikmah berpuasa pada hari Tasu’a bersama Asyura’ adalah sebagai bentuk kehati-hatian agar tidak keliru dalam menentukan hari Asyura’, sebagai bentuk menyelisihi kebiasaan orang-orang Yahudi, dan untuk menghindari mengkhususkan puasa hanya pada hari Asyura’ saja, sebagaimana larangan mengkhususkan puasa pada hari Jumat semata.” (Asna al-Mathalib Syarh Raud at-Thalib [Mesir: al-Mathba’ah al-Maimuniyah], vol. 1, h. 431)

Adapun menurut Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, ada tiga hikmah dianjurkannya puasa Tasu’a, yakni sebagai berikut:

وَذَكَرَ الْعُلَمَاءُ مِنْ أَصْحَابِنَا وَغَيْرِهِمْ فِي حِكْمَةِ اسْتِحْبَابِ صَوْمِ تَاسُوعَاءَ أَوْجُهًا (أَحَدُهَا) أَنَّ الْمُرَادَ مِنْهُ مُخَالَفَةُ الْيَهُودِ فِي اقْتِصَارِهِمْ عَلَى الْعَاشِرِ وَهُوَ مَرْوِيٌّ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَفِي حَدِيثٍ رَوَاهُ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا الْيَهُودَ وَصُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًا وَبَعْدَهُ يَوْمًا (الثَّانِي) أَنَّ الْمُرَادَ بِهِ وَصْلُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ بِصَوْمٍ كَمَا نهى أن يصوما يَوْمُ الْجُمُعَةِ وَحْدَهُ ذَكَرَهُمَا الْخَطَّابِيُّ وَآخَرُونَ (الثَّالِثَ) الِاحْتِيَاطُ فِي صَوْمِ الْعَاشِرِ خَشْيَةَ نَقْصِ الْهِلَالِ وَوُقُوعِ غَلَطٍ فَيَكُونُ التَّاسِعُ فِي الْعَدَدِ هُوَ الْعَاشِرُ فِي نَفْسِ الْأَمْرِ

“Para ulama dari kalangan mazhab kami dan selainnya menyebutkan beberapa hikmah dianjurkannya puasa Tasu’a. Pertama, agar kaum muslimin berbeda dengan orang-orang Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal sepuluh. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Kedua, agar puasa Asyura disambung dengan puasa sehari sebelumnya, sebagaimana Rasulullah SAW melarang mengkhususkan puasa pada hari Jumat saja. Ketiga, sebagai bentuk kehati-hatian apabila terjadi kekeliruan dalam penentuan awal bulan akibat hilal yang tidak terlihat, sehingga bisa jadi tanggal sembilan menurut hitungan ternyata merupakan tanggal sepuluh yang sebenarnya.” (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab [Kairo: Idarh at-Thaba’ah al-Munirah], juz 6, h. 383)

Page: 1 2 3

Hendry Priyatmoko

Recent Posts

Tumbangkan Australia 2-0, Timnas Indonesia U-20 Lolos ke Piala Asia 2027

Timnas Indonesia U-20 berhasil melaju ke putaran final Piala Asia U-2027. Kepastian itu didapat setelah…

12 hours ago

Penanganan Karhutla Maksimal, Pemkab Mura Jamin Kebutuhan Air Bersih untuk Warga

Pemerintah Kabupaten Murung Raya menegaskan komitmen, menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sekaligus menjamin…

13 hours ago

Isu Pungli Tunjangan Guru 3T, Disdik Kalteng Pastikan Kabar Setoran Rp500 Ribu Tidak Benar

Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah (Disdik) Kalteng angkat bicara terkait beredarnya informasi yang menyebut adanya…

13 hours ago

Marak Diserang Konten Negatif, Gubernur Agustiar Sabran Pilih Fokus Tangani Karhutla dan Rakyat

Maraknya konten-konten negatif yang menyerang di berbagai platform media sosial, baik sebagai Gubernur Kalteng maupun…

13 hours ago

Hingga Hari ke 7 Belum Ditemukan, Pencarian Ujianto di Batara Dihentikan Dilanjutkan Pemantauan

Operasi Pencarian dan Pertolongan (SAR) terhadap Ujianto (70), warga Desa Kamawen, Kecamatan Montallat, Kabupaten Barito…

14 hours ago

Tujuh Penerbangan di Bandara Tjilik Riwut Terdampak Aktivitas Gunung Anak Krakatau

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai berdampak pada jadwal pergerakan pesawat di sejumlah wilayah

14 hours ago