“Seharusnya keberadaan Pertamina, keberadaan PLN itu adalah menunjang, mendukung keberadaan masyarakat,” ungkapnya.
“Kita bayar cash! BBM bayar, kita tidak kasbon,” sambung Bambang.
Namun pada kenyataannya, PLN dinilai kerap bertindak tanpa toleransi jika terjadi keterlambatan pembayaran, meski hanya berselang hitungan hari.
“Listrik juga kita bayar, nunggak saja langsung dicabut. Sebelah rumah saya itu langsung dicabut tuh. Lewat dari tanggal 20 saja langsung dicabut. Saya pikir ya itu, tapi jangan juga kejam-kejam begitu sama kita. Dipukul rata begitu,” kecam Bambang.
Bambang menggarisbawahi bahwa ketegasan PLN mencabut meteran warga tidak sebanding dengan pertanggungjawaban mereka saat pelanggan dirugikan.
Alih-alih memberikan ganti rugi secara otomatis atas kualitas layanan yang buruk, PLN justru dinilai kerap tutup mata.
“Giliran mati lampu, malah tidak ada kompensasi lagi,” tutupnya. (her)
Page: 1 2
Timnas Indonesia U-20 berhasil melaju ke putaran final Piala Asia U-2027. Kepastian itu didapat setelah…
Pemerintah Kabupaten Murung Raya menegaskan komitmen, menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sekaligus menjamin…
Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah (Disdik) Kalteng angkat bicara terkait beredarnya informasi yang menyebut adanya…
Maraknya konten-konten negatif yang menyerang di berbagai platform media sosial, baik sebagai Gubernur Kalteng maupun…
Operasi Pencarian dan Pertolongan (SAR) terhadap Ujianto (70), warga Desa Kamawen, Kecamatan Montallat, Kabupaten Barito…
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai berdampak pada jadwal pergerakan pesawat di sejumlah wilayah