
SM alias UYA (17) pemilik 40,38 gram sabu dan ratusan butir ekstasi saat diamankan di Polresta Palangka Raya. (Foto Humas Polresta)
PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Satresnarkoba Polresta Palangka Raya menangkap seorang pemuda berinisial SM alias UYA (17) yang diduga terlibat dalam peredaran narkotika di wilayah Kota Palangka Raya. Dari tangan terduga pelaku, polisi menyita 40,38 gram sabu dan 117 butir ekstasi.
Penangkapan tersebut dilakukan pada Senin (22/6/2026) sekitar pukul 21.30 WIB di Jalan Dr. Murjani, Kelurahan Pahandut, Kecamatan Pahandut. Pengungkapan kasus ini bermula dari informasi masyarakat mengenai dugaan aktivitas transaksi narkotika yang kemudian ditindaklanjuti dengan penyelidikan oleh petugas.
“Saat diamankan, kami menemukan empat butir yang diduga narkotika jenis ekstasi yang dijatuhkan oleh tersangka di lokasi penangkapan. Dari hasil interogasi awal, SM mengaku masih menyimpan narkotika di kediamannya di Jalan Rindang Banua,” ungkap Kasatresnarkoba Polresta Palangka Raya AKP Yonika Winner Te’dang, Selasa (23/6/2026).
Dari keterangannya tersebut, petugas kemudian melakukan pengembangan dan penggeledahan di rumah tersangka. Hasilnya, ditemukan sembilan paket yang diduga narkotika jenis sabu dengan berat kotor sekitar 40,38 gram serta 117 butir yang diduga ekstasi dengan berat kotor sekitar 59,63 gram.
“Selain narkotika, kami juga mengamankan sejumlah barang bukti lain berupa timbangan digital, alat hisap sabu, plastik klip, telepon genggam, sepeda motor, serta uang tunai yang diduga hasil transaksi narkotika,” ungkapnya.
Page: 1 2
Pemerintah Kabupaten Murung Raya bergerak cepat mempercepat target cakupan imunisasi tahun 2026. Langkah tersebut diambil…
Perawatan kulit tidak selalu harus menggunakan produk dengan harga mahal. Sejumlah bahan yang mudah ditemukan…
Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) mengimbau warga adat Dayak di Kalimantan untuk meningkatkan lebih waspada…
Dalam dunia astrologi, beberapa zodiak memiliki keterampilan tertentu yang berpotensi dapat mereka ubah sebagai ladang…
Krisis ekologi dan ekspansi industri dinilai mengancam keberlanjutan identitas masyarakat Dayak.
Aliansi Kalteng Melawan kecewa karena Gubernur Kalteng tidak menemui massa dalam aksi tuntutan penanganan Karhutla.