Ketika pemerintah menghitung kerugian karhutla, perhatian sering tertuju pada luas lahan terbakar dan biaya pemadaman.
Padahal ada kerugian yang lebih panjang: anak yang kehilangan hari belajar, pekerja yang kehilangan produktivitas, keluarga yang mengeluarkan biaya kesehatan, dan masyarakat yang kehilangan kualitas hidup.
Karena itu, kebijakan pemerintah harus berubah dari pemadaman setelah kebakaran terjadimenjadi pencegahan sebelum api muncul.
Pertama, sistem peringatan dini dan pemantauan kualitas udara harus diperkuat.
BMKG sebenarnya telah menyediakan pemantauan PM2.5, prediksi sebaran partikulat, titik panas, dan potensi karhutla.
Informasi tersebut harus diterjemahkan menjadi tindakan cepat di tingkat kabupaten, desa, sekolah, dan fasilitas kesehatan.
Kedua, perlindungan dan restorasi gambut harus menjadi agenda permanen, bukan hanyaprogram ketika musim kemarau tiba.
Ketiga, pengawasan terhadap pembukaan dan pengelolaan lahan harus diperkuat dengan penegakan hukum yang konsisten.
Keempat, pemerintah perlu memberikan insentif ekonomi bagi masyarakat dan pelaku usaha yang berhasil mencegah kebakaran.
Pencegahan harus memiliki nilai ekonomi agar masyarakatmemperoleh manfaat langsung dari menjaga lahan tetap tidak terbakar.
Bupati Lamandau, Rizky Aditya Putra, memberikan arahan tegas mengenai kesiapan serta kesejahteraan para atlet yang…
Kemenangan Alda Callista Putri Setiawan di ajang Miss Indonesia 2026 menjadi momen bersejarah, khususnya bagi…
Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dilaporkan masih menyelimuti wilayah Kota Nanga Bulik, Kabupaten…
Bupati Lamandau, Rizky Aditya Putra, menghadiri acara Pelantikan Pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten…
PKS Kalteng siapkan bantuan oksigen dan pemeriksaan kesehatan bagi warga terdampak kabut asap. Simak langkah…
Menhut Raja Juli akui kondisi Kalimantan darurat karhutla. Pemerintah pastikan tetap tangani titik api meski…