Categories: Nasional

14 Zona Megathrust Kepung Indonesia, Begini Kata Pakar Jepang

Pengetahuan tersebut bukan berarti membuat gempa dapat diprediksi secara pasti, tetapi dapat memperkuat dasar ilmiah untuk mitigasi dan pengurangan risiko.

Dalam konteks inilah perhatian ahli Jepang terhadap wilayah Indonesia menjadi relevan.

Pengalaman Jepang menunjukkan pentingnya investasi pada sistem pengamatan, penelitian, pemodelan, serta kesiapsiagaan menghadapi gempa dan tsunami.

Indonesia memiliki karakteristik tektonik yang berbeda-beda di setiap wilayah. Karena itu, penelitian terhadap masing-masing zona subduksi tetap diperlukan.

Data dari Sumatra tidak serta-merta dapat digunakan untuk menggambarkan kondisi Jawa, begitu pula sebaliknya.

Kajian terhadap megathrust pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa besar gempa yang mungkin terjadi, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat dan pemerintah dapat mengurangi dampaknya apabila bencana benar-benar terjadi.

Peringatan mengenai potensi megathrust juga tidak seharusnya mendorong kepanikan. Informasi ilmiah justru perlu digunakan untuk meningkatkan kesiapsiagaan, mulai dari memahami risiko di wilayah masing-masing hingga memastikan langkah evakuasi dan mitigasi telah dipersiapkan.

Pesan utama dari perkembangan pemetaan dan penelitian tersebut adalah bahwa gempa besar merupakan risiko yang harus diperhitungkan, sementara waktu kejadiannya belum dapat ditentukan secara pasti.

Karena itu, pemantauan jangka panjang, penguatan teknologi, penelitian ilmiah, dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman gempa dan tsunami di Indonesia.

Dengan cakupan zona subduksi yang luas dan potensi sumber gempa yang besar, pengembangan sistem pemantauan menjadi kebutuhan strategis.

Seperti yang ditekankan Heki, pengamatan terhadap deformasi kerak bumi dapat membantu ilmuwan memahami proses yang terjadi sebelum dan selama siklus gempa.

Pada akhirnya, peta megathrust bukanlah kalender yang menunjukkan kapan gempa akan terjadi.

Peta tersebut merupakan instrumen untuk mengenali sumber bahaya dan membantu berbagai pihak menyiapkan langkah mitigasi berdasarkan bukti ilmiah.

Semakin baik pemahaman terhadap kondisi tektonik, semakin kuat pula dasar untuk membangun kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana di masa depan. (jpg)

 

Page: 1 2 3 4

Hendry Priyatmoko

Recent Posts

Jarak Pandang Capai 300 Meter, Kabut Asap Gagalkan 2 Penerbangan Batik Air di Bandara Tjilik Riwut

Kabut asap pekat yang menyelimuti wilayah Kota Palangka Raya, mulai memicu gangguan serius terhadap operasional…

21 hours ago

Kabut Asap Selimuti Palangka Raya, Disdik Pantau Kesehatan Siswa Selama PJJ

Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya memantau kondisi kesehatan siswa di tengah kabut asap yang menyelimuti…

21 hours ago

Jalan Sampit–Samuda Mulus, Warga Kotim Histeris Sambut Gubernur Agustiar Sabran

Gubernur Kalteng Agustiar Sabran disambut haru warga saat melintas di Jalan Sampit–Samuda Kotim yang kini…

21 hours ago

Klarifikasi Video Viral, Sipropam Polresta Palangka Raya Sebut Tidak Ada Pungli Anggota Satlantas

Sipropam Polresta Palangka Raya melakukan pemeriksaan dan pendalaman terkait beredarnya video di media sosial yang…

23 hours ago

Kondisi Fisik Petugas Karhutla Lamandau Menurun, Dinkes Turun Tangan Cek Kesehatan Personel

Setelah berhari-hari berjibaku memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) siang dan malam. Kondisi fisik sejumlah…

23 hours ago

Gerebek Tiga Lokasi! Dua Pengedar Sabu Ditangkap, Sita 456 Gram dan Tes Positif 15 Orang di Ponton

Dua pria berinisial AR (33) dan RAF (33) diamankan Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalimantan Tengah…

23 hours ago