Selain itu, karotenemia biasanya tidak disertai keluhan lain seperti nyeri, gatal, atau kelelahan berlebihan. Kondisi ini terjadi karena tubuh memiliki kemampuan terbatas dalam mengolah beta-karoten. Ketika asupannya terlalu banyak, pigmen tersebut akan menumpuk dalam aliran darah dan tersimpan di jaringan kulit.
Risiko karotenemia dapat meningkat pada bayi maupun individu dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti hipotiroidisme, gangguan ginjal, atau gangguan fungsi hati. Meski demikian, penyebab tersering tetap berasal dari konsumsi makanan atau suplemen tinggi beta-karoten secara berlebihan.
Penanganannya relatif sederhana, yakni dengan mengurangi konsumsi makanan dan suplemen yang mengandung beta-karoten dalam jumlah tinggi. Setelah pola makan disesuaikan, warna kulit umumnya akan kembali normal secara bertahap dalam beberapa minggu hingga beberapa bulan.
Meski tidak berbahaya, masyarakat tetap perlu waspada jika perubahan warna kulit disertai gejala lain seperti mata menguning, nyeri perut, atau urine berwarna gelap. Kondisi tersebut dapat mengindikasikan gangguan kesehatan yang lebih serius sehingga memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut. (nor/fir/jpg)
Page: 1 2
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengatakan, pemerintah mengeluarkan dana subsidi untuk…
Agustiar Sabran melanjutkan reshuffle jilid III di Pemprov Kalteng dengan melantik delapan pejabat eselon II…
Munculnya uban merupakan bagian alami dari proses penuaan yang hampir dialami setiap orang. Seiring bertambahnya…
Menerima dan menghargai bentuk tubuh sendiri merupakan langkah penting untuk membangun rasa percaya diri serta…
Gubernur Agustiar Sabran melantik delapan pejabat eselon II di lingkungan Pemprov Kalteng untuk memperkuat kinerja…
Korban pembacokan brutal di Jalan Mahir Mahar, EY (55), kini menghadapi masa pemulihan yang berat.