
Ketua PWNU Kalimantan Tengah, Dr. H. M. Wahyudie F. Dirun, S.P., M.M didamping jajaran pengurus saat diwawancarai awak media di sela kegiatan pelantikan Pengurus Wilayah/Cabang GP Ansor se-Kalimantan Tengah, Kamis (6/8/2026). (Foto Prokalteng.co)
PALANGKA RAYA,PROKALTENG.CO — Menjelang pesta akbar warga Nahdliyin, Muktamar Nahdlatul Ulama yang berlangsung 27–30 Agustus di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Rejoso, Jombang, semangat kebersamaan datang dari Kalimantan Tengah. Pengurus Wilayah NU (PWNU) Bumi Tambun Bungai resmi membuka lebar pintu silaturahmi. Siapa pun calon Ketua Umum PBNU yang datang, semuanya diterima. Semua visi-misi akan didengarkan.
Langkah terbuka ini disampaikan langsung Ketua PWNU Kalimantan Tengah, Dr. H. M. Wahyudie F. Dirun, S.P., M.M dalam wawancara hangat di Aula Kantor Gubernur Kalteng, Kamis (6/8/2026).
Selesai menghadiri pelantikan Pengurus Wilayah serta Cabang GP Ansor se-Kalimantan Tengah, ia menegaskan satu pesan penting. Yakni, Muktamar adalah milik seluruh warga NU. Bukan ajang perpecahan, melainkan hari raya ukhuwah.
“Muktamar ini sebenarnya adalah hari rayanya Nahdliyin. Jadi kita berkumpul, warga NU bersukacita dan riang gembira. Di dalam ruang ya sidang-sidang, tapi di luar kita bergembira. Harapan Kalteng, Muktamar ini bisa berjalan enak, tenang, adem, dan nyaman,” ujarnya kepada media.
Di balik keramahan yang disampaikan itu, Wahyudie menyebut bahwa Kalteng memegang peran yang tak bisa dipandang sebelah mata. Menurutnya wilayah ini membawa 15 suara ke Jombang nanti. 14 suara dari Cabang Kabupaten/Kota dan 1 suara dari tingkat Wilayah. Angka yang bisa menjadi penentu keseimbangan. Namun ke mana suara itu akan berlabuh? Belum ada yang tahu.
“Kalteng punya total 15 suara. 14 cabang kabupaten ditambah 1 wilayah. Soal arah dukungan, saat ini masih rahasia. Tapi yang jelas Kalteng solid satu suara dan terbuka bagi semua calon Ketum yang ingin silaturahmi menyampaikan visi-misinya,” tegasnya.
Keputusan itu bukan tanpa pertimbangan mendalam. PWNU Kalteng ingin memastikan sosok yang terpilih kelak benar-benar dekat dengan hati daerah.
Bagi warga Kalteng, pemimpin PBNU harus mampu menyelaraskan program nasional dengan kehidupan masyarakat setempat, termasuk menjaga kearifan lokal yang sudah turun-temurun dijaga, yaitu Huma Betang.
“Bagi kami di Kalteng yang penting bisa mendukung program-program NU di daerah, termasuk selaras dengan program pemerintah daerah dan kearifan lokal seperti Huma Betang. Kita cari Ketum yang programnya selaras dengan daerah,” tambahnya.
Kini, Bumi Tambun Bungai mulai dikunjungi para tokoh. Gus Yahya telah singgah di Pangkalan Bun. Kiai Zulfa, Gus Salam (Pimpinan Pondok Pesantren Denanyar), Gus Yusuf Chudlori, serta Saifullah Yusuf pun telah bersilaturahmi dan menyampaikan gagasannya. Tak berhenti di situ, pada 9 Agustus mendatang, Menteri Agama Prof. Nasaruddin juga mengundang pengurus PWNU Kalteng di Banjarmasin.
Menurut Wahyudie, pergantian kepemimpinan PBNU adalah momen penting untuk menentukan arah perjalanan NU ke depan. Bukan sekadar soal siapa yang memegang palu, melainkan siapa yang paling memahami suara rakyat di pelosok negeri, menghargai kearifan lokal, dan menjaga persatuan di atas segala perbedaan. (*mg_1/hnd)
Agustiar Sabran mendorong GP Ansor memperkuat ekonomi daerah melalui penguatan rantai pasok dan sinergi dengan…
Pencarian Smoke Patch PES 2021 Update Option File musim 2026/2027 terus meningkat seiring bergulirnya kompetisi sepak bola musim…
Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman, menatap antusias pertandingan krusial menghadapi Singapura di laga terakhir Grup…
Menjelang pemilihan pimpinan baru, Aliansi Mahasiswa Universitas Palangka Raya (UPR) mengadakan acara bedah gagasan dan…
Bulog Kalteng mencatat distribusi beras SPHP telah mencapai 59,42 persen dari target 2026. Pasokan beras…
Komisi III DPRD Palangka Raya menyoroti kerusakan fasilitas di dua sekolah, mulai dari MCK hingga…