
Ilustrasi penangkapan diduga terorisme oleh Densos 88 Anti Teror.
PROKALTENG.CO-Tabir gelap kasus remaja 14 tahun asal Kabupaten Banjar yang terjerat jaringan radikalisme terkuak. Hasil asesmen mendalam tim psikolog Polda Kalsel mengungkap fakta mengejutkan. Anak di bawah umur tersebut bukan sekadar korban cuci otak, melainkan sudah terpapar radikalisme tingkat tinggi dengan kemampuan merakit bom rakitan sederhana.
Posisi sang remaja bahkan terbilang strategis. Ia diketahui menjabat sebagai admin grup WhatsApp radikal yang dikendalikan dari luar wilayah Kalsel. Fakta ini menegaskan bahwa infiltrasi ideologi ekstrem kini menyasar generasi belia dengan cara yang semakin sistematis.
Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinsos P3AP2KB) Kabupaten Banjar, Erny Wahdini, menjelaskan, Awalnya pihaknya mendapat laporan dari Densus 88 pada 26 April.
Sehari kemudian korban langsung dievakuasi untuk menjalani asesmen kejiwaan oleh tim psikolog Polda Kalsel. “Dari hasil asesmen, anak ini mampu membuat bom rakitan dalam skala kecil. Arahnya sudah ke sana, sehingga dinyatakan terpapar tingkat tinggi,” ungkap Erny.
Transformasi sikap agresif sang remaja tidak terjadi begitu saja. Ia merupakan korban broken home sejak usia lima tahun, kemudian mengalami perundungan di sekolah hingga putus sekolah.
Trauma berat membuatnya menarik diri dari lingkungan sosial dan menjadikan gawai sebagai pelarian. Celah inilah yang dimanfaatkan kelompok ekstremis untuk melakukan indoktrinasi melalui grup WhatsApp.
“Selama perjalanan hidupnya, anak ini lebih didominasi pengalaman negatif. Hingga akhirnya ia mengurung diri di rumah 24 jam dengan handphone. Kondisi ini dimanfaatkan pihak tak bertanggung jawab untuk menanamkan ideologi radikal,” jelas Erny.
Paparan ideologi ekstrem juga mengubah perilaku sang anak. Ia menjadi penggemar konten kekerasan, emosinya labil, bahkan kerap melukai diri sendiri maupun keluarganya. Saat ini, pemerintah daerah bersama aparat fokus menyelamatkan masa depan korban.
Selain pendampingan intensif dari psikolog UPTD PPA Banjar, remaja tersebut diwajibkan menjalani pengobatan rawat jalan ke psikiater di RSJ Sambang Lihum. “Alhamdulillah, sekarang anak tersebut sudah mulai tenang. Hubungan dengan grup WhatsApp itu sudah terputus, sehingga proses pemulihan berjalan lebih baik,” ujar Erny.
Bahkan, jika tim medis menyatakan sembuh total, Dinsos P3AP2KB berkomitmen memfasilitasi kepulangannya ke bangku sekolah. “Jangan biarkan anak selalu terpapar gawai. Isi kegiatan mereka dengan aktivitas positif. Paham radikalisme kini menyusup lewat gawai yang dipegang anak-anak setiap hari. Karena itu, pengawasan literasi digital mutlak diperlukan,” tandasnya.
Kasus ini memicu keprihatinan mendalam dari kalangan ulama. Anggota Tim Fatwa MUI Kabupaten Banjar, Ustaz Ali Husein, menilai kemudahan akses internet saat ini menjadi pedang bermata dua.
Page: 1 2
Speedboat terbalik di Sungai Murung, Kabupaten Kapuas, Kamis sore. Penumpang berusaha menyelamatkan diri, sementara warga…
Kemeriahan dan keseruan gelaran grebeg suro Lamandau 2026 benar-benar menyedot perhatian masyarakat. Berpusat di Bundaran…
Marshanda membagikan cerita pribadinya kepada para penggemar tentang perubahan berat badannya yang naik cukup signifikan…
Polres Hulu Sungai Tengah (HST) mengungkap kronologi kecelakaan maut terjadi di Jalan Lingkar, tepatnya di perempatan menuju…
Membuka ponsel sesaat setelah bangun tidur telah menjadi rutinitas banyak orang. Sebelum memulai aktivitas, tak sedikit yang…
Sebuah kecelakaan tunggal yang melibatkan kendaraan taktis (Tantis) mobil dinas TNI terjadi di ruas Tol…