Menurutnya, faktor nilai tukar rupiah yang melemah terhadap ringgit Malaysia juga ikut memengaruhi pandangan para pekerja migran. Penghasilan yang diterima dalam mata uang ringgit menjadi terasa lebih besar ketika dikonversikan ke rupiah.
Fenomena itu juga ditemui Rokim saat berbincang dengan Dani, warga Surabaya yang kini berdagang tanaman hias di Malaysia. Dani telah sekitar lima tahun mengadu nasib di negeri jiran setelah sebelumnya sempat tinggal di Bali.
“Dia mengatakan usahanya cukup berjalan dan mampu mencukupi kebutuhan hidup. Selisih nilai tukar membuat hasil usaha yang diperoleh dalam ringgit terasa lebih menguntungkan ketika dihitung dalam rupiah,” tutur Rokim.
Bagi Rokim, cerita-cerita para PMI tersebut menjadi gambaran tentang tantangan yang masih dihadapi Indonesia dalam menciptakan lapangan pekerjaan dengan pendapatan yang kompetitif.
“Mereka bukan tidak cinta Indonesia. Justru sebagian besar ingin pulang suatu saat nanti. Namun selama peluang ekonomi di Malaysia dianggap lebih menjanjikan, mereka memilih bertahan di sana demi masa depan keluarga,” pungkasnya. (jpg)
Seorang pedagang kosmetik kehilangan sepeda motor saat salat Magrib berjamaah di Masjid Raya Nurul Islam…
DPRD Kalteng mempercepat pembahasan Raperda Penyelesaian Sengketa Lahan dan Konflik Pertanahan yang ditargetkan rampung paling…
Kejari Palangka Raya mempertimbangkan memanggil mantan Pj Wali Kota Hera Nugrahayu dalam pengembangan penyidikan dugaan…
Moto3 rookie Brian Uriarte resmi didiskualifikasi dari seluruh hasil Moto3 Catalunya 2026 setelah motor yang…
Faridawaty mendorong generasi muda meningkatkan kapasitas, kreativitas, dan inovasi untuk menghadapi tantangan zaman serta berkontribusi…
Dunia kuliner Surabaya kembali kedatangan pemain baru dengan konsep yang berbeda dari biasanya.