Categories: International

Gempa Dahsyat di Venezuela, Jumlah Korban Tewas Capai 1.400 Jiwa

Puluhan Ribu Orang Masih Hilang

Meskipun laporan resmi pemerintah hanya menyebutkan ratusan orang hilang atau terjebak, sebuah situs web yang dikelola oleh kelompok oposisi mencatat data yang jauh lebih besar. Lebih dari 55.000 orang saat ini terdaftar sebagai warga yang tidak diketahui keberadaannya.

Melihat skala kerusakan yang ada, Badan Survei Geologi AS (USGS) memprediksi bahwa total kematian sesungguhnya berpotensi menembus 10.000 jiwa. Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 ini otomatis masuk ke dalam jajaran salah satu bencana alam paling mematikan di Amerika Latin dalam satu abad terakhir.

Selain memicu krisis kemanusiaan, bencana ini juga membawa dampak politik bagi Jorge Rodriguez. Selama ini, Rodriguez berusaha menampilkan dirinya sebagai agen perubahan, meskipun ia memegang posisi penting sebagai wakil presiden dari pimpinan terdahulu, Nicolas Maduro, yang telah digulingkan dan ditangkap oleh AS pada Januari lalu.

Solidaritas Dunia dan Bantuan Internasional

Duka mendalam ini memicu simpati dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari pemimpin gereja katolik. Paus Leo, saat berbicara di Roma pada hari Sabtu, menyampaikan doa tulus untuk para korban, keluarga yang berduka, serta seluruh petugas yang berjuang dalam operasi penyelamatan. Beliau berharap agar solidaritas global terhadap rakyat Venezuela dapat terus bertahan lama.

Amerika Serikat juga bergerak cepat mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Venezuela. Seorang pejabat senior pemerintahan AS membocorkan pada hari Sabtu bahwa Washington akan mengumumkan paket pendanaan baru senilai ratusan juta dolar AS dalam satu atau dua hari ke depan. Dana segar ini bakal menambah suntikan bantuan sebesar US$150 juta yang sebelumnya telah dikucurkan oleh pemerintahan Trump.

Namun, di tengah fokus penanggulangan bencana, dinamika politik internal tetap bergejolak. Seorang pejabat Gedung Putih mengungkapkan kepada Reuters bahwa para pejabat senior di Washington merasa frustrasi terhadap manuver pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado.

Machado, yang telah meninggalkan Venezuela sejak akhir tahun lalu, kabarnya memanfaatkan momen ini untuk meminta bantuan AS agar dirinya bisa kembali ke tanah air. Pihak Washington menilai bahwa langkah politik Machado tersebut masih terlalu dini untuk dibahas saat negara sedang fokus penuh menghadapi bencana besar. (fin/jpg)

 

 

Page: 1 2

Hendry Priyatmoko

Share

Recent Posts

Kabut Asap Ganggu Penerbangan, Penumpang Bandara Tjilik Riwut Pilih Refund

Kabut asap mengganggu penerbangan di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya hingga menyebabkan sejumlah penerbangan terdampak.

12 hours ago

DPRD Palangka Raya: Evaluasi Karhutla 2026 Harus Jadi Pijakan Kebijakan 2027

Pengalaman menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap sepanjang 2026 ini menjadi catatan…

13 hours ago

Kabut Asap Pekat di Palangka Raya, Pesawat Water Bombing dan OMC Lumpuh!

Pekatnya kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan yang menyelimuti kawasan Bandara Tjilik Riwut, Palangka…

13 hours ago

Jarak Pandang 450 Meter, Tiga Penerbangan di Bandara Tjilik Riwut Dibatalkan karena Asap

Bencana kabut asap akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kembali melumpuhkan aktivitas operasional penerbangan di…

13 hours ago

Diselimuti Kabut Asap, Pedagang di Pasar Besar Palangka Raya Keluhkan Penjualan Sepi

Aktivitas perdagangan di Pasar Besar Jalan Seram, Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah pada Sabtu (12/9/2026)…

14 hours ago

Jelang Duel Melawan Isenmulang Kalteng, Ini Tekad Pelatih Bali United di Stadion Dipta

Bali United kembali akan menjalani laga kandang dengan menjamu Isenmulang Kalteng FC di Stadion Kapten I Wayan…

15 hours ago