
Israel Gempur Lebanon, AS-Iran Batal Damai, dan Selat Hormuz Resmi Ditutup Kembali.
PROKALTENG.CO-Meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Jalur pelayaran yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak global itu dinilai memiliki peran sangat strategis sehingga setiap eskalasi konflik di kawasan tersebut langsung memengaruhi sentimen pasar internasional, bahkan sebelum terjadi gangguan nyata terhadap distribusi minyak.
Anggota Komisi XI DPR RI, Amin AK, menilai ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran tidak bisa dipandang sebagai persoalan regional semata. Menurutnya, pasar global segera merespons setiap peningkatan risiko keamanan di Selat Hormuz dengan menaikkan premi risiko (risk premium), biaya asuransi kapal, tarif pengangkutan energi, hingga harga minyak mentah dunia.
“Pasar tidak hanya memperhitungkan pasokan minyak, tetapi juga ketidakpastian yang muncul akibat meningkatnya risiko geopolitik,” ujarnya, Rabu (15/7/2026).
Selat Hormuz, Jalur Vital Pasokan Energi Dunia
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Berdasarkan data dari U.S. Energy Information Administration (EIA) dan berbagai lembaga energi internasional, sekitar 20 persen konsumsi minyak dunia atau sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut.
Negara-negara produsen minyak utama seperti Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Qatar sangat bergantung pada jalur ini untuk mengekspor minyak mentah dan gas alam cair (LNG) ke pasar global.
Karena itu, setiap ancaman terhadap kelancaran pelayaran di kawasan tersebut hampir selalu memicu lonjakan harga energi di pasar internasional.
Harga Minyak Berpotensi Menembus US$110 per Barel
Amin mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak saat ini belum mencerminkan risiko terburuk.
Menurutnya, apabila konflik berkembang hingga mengganggu aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, harga minyak mentah dunia berpotensi melonjak ke kisaran US$100 hingga US$110 per barel.
Dalam situasi seperti itu, dunia tidak lagi menghadapi fluktuasi harga komoditas biasa, melainkan guncangan keamanan energi (energy security shock) yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi global.
Lonjakan harga energi juga berpotensi meningkatkan biaya logistik internasional, memperbesar inflasi di banyak negara, serta memperlambat pemulihan ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian.
Indonesia Masih Rentan terhadap Gejolak Harga Minyak
Bagi Indonesia, dampak konflik di Selat Hormuz dinilai jauh lebih luas dibanding sekadar potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Euforia nonton bareng sepak bola tak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi…
Palangka Raya Coffee Week perdana mendapat apresiasi pelaku usaha karena dinilai mampu mendorong perkembangan industri…
Sebanyak 18 coffee shop dari berbagai daerah di Kalimantan Tengah meramaikan Palangka Raya Coffee Week.
Cinta Laura menunjukkan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan dengan membantu salah satu asistennya, Salsa, menyelesaikan pendidikan yang sempat terhenti akibat pandemi Covid-19.
Pamor motor tua atau motor klasik terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Komunitas dan penghobi motor lawas terus bermunculan di berbagai daerah.
Dalam sebuah hubungan, kepercayaan adalah fondasi utama yang membuat cinta dapat bertahan dalam jangka panjang.