
Ketua Komisi II DPRD Kalteng, Siti Nafsiah. (Foto : Heri/Prokalteng.co)
PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memunculkan ironi di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Di satu sisi kondisi ini menguntungkan perusahaan-perusahaan besar, namun di sisi lain justru memberikan beban berat bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.
Ketua Komisi II DPRD Kalteng, Siti Nafsiah menyebutkan, sebagai daerah yang menjadi basis komoditas kelapa sawit, batu bara, dan karet, Kalteng memang merasakan sisi positif dari menguatnya dolar tersebut.
“Saat rupiah melemah, pendapatan perusahaan besar dan pengusahanya memang naik karena nilai dolar lebih mahal. Tapi untuk masyarakat kebanyakan, misalnya petani sawit swadaya, petani pangan, nelayan, pedagang kecil, hingga pekerja harian, beban yang mereka tanggung justru makin berat,” ungkapnya saat diwawancarai awak media di Gedung DPRD Kalteng, Rabu (17/6/2026).
Nafsiah menjelaskan, jeritan masyarakat di tingkat tapak ini sangat beralasan. Dampak nyata yang langsung menghantam mereka adalah lonjakan tajam pada biaya produksi.
Page: 1 2
Persemar Banjar Martapura mengukuhkan gelar juara Piala Pangdam Cup TB XXII. Tim asal Kalimantan Selatan…
Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) punya posisi baru dalam pendidikan tinggi Indonesia. Kini, perguruan tinggi di…
Politisi dan jurnalis senior Akbar Faizal menyoroti kegagalan Timnas Indonesia melaju ke semifinal Piala AFF.…
Hari Jadi ke-24 Kabupaten Murung Raya menjadi momentum untuk mempererat persatuan dan memperkuat sinergi seluruh…
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Murung Raya, Rejikinoor menghadiri Upacara Peringatan Hari Ulang…
Anggota DPRD Kabupaten Murung Raya, Lita Norfiana, menghadiri Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-24…