Menanggapi gelombang protes dan kericuhan yang terjadi di lapangan, pihak panitia ARTJOG langsung bergerak cepat untuk meredam situasi. Melalui pernyataan resminya, panitia menyampaikan permohonan maaf atas tindakan represif dan kekerasan yang dilakukan oleh oknum keamanan.
Pihak penyelenggara menegaskan bahwa tidak ada intervensi kuratorial sama sekali dalam pemilihan karya tahun ini. Sebagai langkah evaluasi total dan demi menjaga kondusivitas, panitia akhirnya mengambil keputusan tegas untuk menurunkan nama serta logo sponsor yang memicu polemik tersebut dari seluruh atribut pameran.
Pro-Kontra Netizen: Ruang Aman vs Ketertiban Acara
Insiden ini langsung memicu perdebatan panas di platform media sosial seperti X (Twitter) dan Instagram. Mayoritas warganet menyayangkan tindakan represif aparat keamanan dan menilai kebebasan berekspresi di Indonesia kian terancam.
“Katanya pasar seni kontemporer terbesar, tapi dikritik sedikit langsung pakai otot. Ironis banget, esensi seninya sudah hilang digantikan kepentingan oligarki,” tulis akun @art_rebel99.
“Miris, ruang seni yang harusnya jadi tempat paling aman untuk merdeka berpikir malah jadi tempat represif,” komentar @wargajogja_.
Kepala Disdik Kalteng Muhammad Reza Prabowo menegaskan bahwa proses penerimaan peserta didik baru harus berjalan…
Anggota Komisi III DPRD Kota Palangka Raya, Arif M Norkim berharap Pemerintah Kota Palangka Raya…
Pemerintah Kabupaten Lamandau secara resmi menyampaikan ucapan selamat dan sukses atas diselenggarakannya Musabaqah Tilawatil Qur'an…
Tingkat kesadaran masyarakat Kota Palangka Raya dalam membayar Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) saat ini mencapai…
Gubernur Kalteng Agustiar Sabran meninjau progres pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Gunung Mas untuk memastikan…
Pertandingan antara Ghana dan Inggris di Piala Dunia 2026 rupanya sudah memanas bahkan sebelum bola…