“Bagaimana saat itu misalnya untuk kepentingan elektoral dipakai belanja bansos yang begitu besar,” katanya.
Hasto bahkan mengutip pandangan sejumlah pengamat politik internasional yang memperkirakan total belanja bansos tersebut mencapai lebih dari 13 miliar dolar Amerika Serikat.
“Dalam hitungan para pengamat politik luar, itu mencapai lebih dari 13 miliar USD,” ungkapnya.
Selain bansos, Hasto juga menyoroti belanja infrastruktur yang menurutnya belum sepenuhnya menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat luas.
Ia menilai sejumlah proyek besar yang telah dijalankan belum mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang optimal terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kemudian belanja-belanja infrastruktur yang tidak memberikan suatu multiplier,” ujarnya.
Tak hanya itu, Hasto turut menyinggung proyek pemindahan ibu kota negara yang selama ini menjadi salah satu program strategis nasional. Menurutnya, kebijakan tersebut juga perlu dievaluasi dari sisi dampak ekonomi dan beban fiskal yang ditimbulkan.
“Efek pemindahan ibu kota,” katanya singkat.
Gempa bumi berkekuatan 6,7 Skala Richter yang mengguncang wilayah Kabupaten Parigi Moutong pada Selasa (16/6/2026)…
Kecelakaan laut di perairan Labuan Mas, Kecamatan Pulau Laut Selatan, Kotabaru, menyisakan duka mendalam.
Kementerian Perdagangan mengimbau seluruh pelaku usaha yang menjalankan aktivitas perdagangan melalui platform digital, mulai dari…
Deddy Tanggara memilih mencermati situasi usai tidak lolos verifikasi Pilrek UPR 2026-2030.
Persija Jakarta resmi berpisah dengan Hansamu Yama, Riko Simanjuntak, dan Alfriyanto Nico pada Rabu (17/6/2026).…
Gelombang protes mahasiswa terhadap sejumlah kebijakan pemerintah belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Setelah aksi demonstrasi berlangsung…