
Ilustrasi warga menunggu listrik menyala dari pemadaman. (Foto: Generator AI)
NANGA BULIK, PROKALTENG.CO – Keluhan klasik masyarakat Kabupaten Lamandau terkait hilangnya sinyal telepon seluler dan internet, setiap kali terjadi pemadaman listrik bergilir kembali mencuat.
Kondisi ini dinilai sangat merugikan karena melumpuhkan berbagai aktivitas krusial. Mulai dari komunikasi harian, pekerjaan, pembelajaran, hingga transaksi digital yang kini bergantung penuh pada jaringan internet.
Kepala Bidang Pengelolaan Infrastruktur dan Ekosistem TIK Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Diskominfostandi) Lamandau, Kariadi, angkat bicara.
Saat ditemui awak media di ruang kerjanya pada Kamis (9/7/2026), ia menegaskan bahwa penyebab utama dari “lumpuhnya” jaringan ini adalah minimnya fasilitas cadangan daya (back-up power) pada Base Transceiver Station (BTS) milik operator seluler.
“Mengapa setiap kali terjadi pemadaman listrik bergilir, sinyal telepon dan internet dari provider juga ikut hilang? Penyebabnya adalah tidak tersedianya baterai cadangan atau genset di masing-masing BTS yang ada di Kabupaten Lamandau,” tegas Kariadi.
Berdasarkan data sebaran infrastruktur telekomunikasi tahun 2026, Kabupaten Lamandau sebenarnya memiliki total 93 BTS yang tersebar di delapan kecamatan. Berikut adalah rincian sebarannya:
Kecamatan dan Jumlah BTS
* Kecamatan Bulik 28 BTS
* Kecamatan Lamandau 12 BTS
* Kecamatan Menthobi Raya 11 BTS
* Kecamatan Sematu Jaya 10 BTS
* Kecamatan Delang 10 BTS
* Kecamatan Bulik Timur 10 BTS
* Kecamatan Belantikan Raya 8 BTS
* Kecamatan Batang Kawa 4 BTS
Sayangnya. Dari puluhan menara jaringan tersebut, sebagian besar diduga kuat belum dilengkapi dengan baterai cadangan maupun genset yang memadai. Akibatnya, begitu pasokan listrik dari PLN terputus, perangkat BTS ikut mati total dan layanan telekomunikasi langsung drop.
Desak Operator Segera Evaluasi dan Pasang Genset
Kariadi mengingatkan bahwa di era digital saat ini, jaringan telekomunikasi merupakan kebutuhan vital yang tidak boleh mati, terlebih dalam situasi darurat. Operator seluler seharusnya memiliki tanggung jawab moral dan teknis untuk menjaga layanan mereka tetap prima.
“Seharusnya operator telekomunikasi memiliki sistem cadangan daya yang lebih siap. Tower jaringan mestinya tetap dapat beroperasi beberapa jam atau bahkan lebih lama ketika listrik PLN mengalami gangguan. Kehadiran baterai cadangan atau genset bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan penting agar masyarakat tetap terhubung di situasi darurat,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa masyarakat mungkin masih bisa menoleransi kondisi gelap akibat mati lampu, namun kehilangan akses informasi dan komunikasi di zaman sekarang adalah persoalan yang jauh lebih besar.
“Mati lampu mungkin masih bisa ditahan. Namun ketika jaringan juga ikut mati, masyarakat bukan hanya kehilangan cahaya, tetapi juga kehilangan akses komunikasi dan informasi,” imbuh Kariadi.
Kini, masyarakat Kabupaten Lamandau mendesak seluruh operator seluler yang beroperasi di wilayah tersebut untuk segera melakukan evaluasi total. Mereka berharap penyedia layanan bersedia menginvestasikan fasilitas baterai cadangan atau genset di setiap BTS demi menjamin hak konsumen atas akses komunikasi yang cepat, andal, dan tanpa hambatan. (bib)
Speedboat terbalik di Sungai Murung, Kabupaten Kapuas, Kamis sore. Penumpang berusaha menyelamatkan diri, sementara warga…
Kemeriahan dan keseruan gelaran grebeg suro Lamandau 2026 benar-benar menyedot perhatian masyarakat. Berpusat di Bundaran…
Marshanda membagikan cerita pribadinya kepada para penggemar tentang perubahan berat badannya yang naik cukup signifikan…
Polres Hulu Sungai Tengah (HST) mengungkap kronologi kecelakaan maut terjadi di Jalan Lingkar, tepatnya di perempatan menuju…
Tabir gelap kasus remaja 14 tahun asal Kabupaten Banjar yang terjerat jaringan radikalisme terkuak. Hasil asesmen mendalam…
Membuka ponsel sesaat setelah bangun tidur telah menjadi rutinitas banyak orang. Sebelum memulai aktivitas, tak sedikit yang…