Dengan struktur penerimaan yang semakin kuat, ketergantungan terhadap pembiayaan utang dapat terus ditekan.
Lebih jauh lagi, RAPBN 2027 mengandung target sosial ekonomi yang cukup ambisius.
Pemerintah menargetkan penurunan tingkat kemiskinan menjadi 6,0–6,5 persen, penurunan tingkat pengangguran terbuka menjadi 4,30–4,87 persen, serta perbaikan distribusi pendapatan yang tercermin dalam penurunan rasio gini.
Target-target tersebut menunjukkan bahwa APBN tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pada akhirnya, defisit anggaran dalam RAPBN 2027 seharusnya dipandang sebagai investasi untuk masa depan, bukan sekadar angka kekurangan dalam neraca fiskal.
Jika dikelola secara disiplin, transparan, dan produktif, defisit dapat menjadi jembatan menuju pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Di tengah berbagai tantangan global, RAPBN 2027 membawa pesan penting bahwa Indonesia tidak hanya berupaya menjaga stabilitas ekonomi, tetapi juga membangun harapan baru bagi kesejahteraan rakyat dan kemajuan bangsa.
*)Penulis adalah Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Palangka Raya
Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng), Agustiar Sabran memastikan kondisi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayahnya…
Kebakaran lahan di Jalan Mahir Mahar (Lingkar Luar), Kota Palangka Raya, Provinsi Kalimantan Tengah pada…
Pemerintah Kabupaten Lamandau memutuskan untuk meniadakan seluruh pesta perayaan dan hiburan musik dalam rangka Peringatan…
Pemusatan Pendidikan dan Pelatihan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Lamandau Tahun 2026 secara resmi…
Momentum HUT ke-81 RI menjadi refleksi transformasi pendidikan Kalteng melalui 18 terobosan yang memperluas akses…
Sebanyak 3.494 warga binaan Kalteng mendapat remisi HUT ke-81 RI, dengan 64 orang di antaranya…