Materi yang diberikan juga disesuaikan dengan kebutuhan industri saat ini. Selain basic mixing, creative mixing, dan remixer class, peserta mendapatkan pelatihan mengenai stage presence, personal branding, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan berbagai perangkat lunak pendukung produksi musik.
Arman menilai kemampuan teknis saja tidak lagi cukup untuk bersaing. Seorang DJ juga dituntut memiliki karakter yang kuat, percaya diri saat tampil, serta mampu membangun citra profesional di era digital.
“Ke depan yang dibutuhkan bukan hanya DJ yang bisa memainkan musik, tetapi juga performer yang punya identitas dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi,” jelasnya.
Program tersebut menghadirkan mentor yang masih aktif di industri musik elektronik, antara lain DJ Jabrick, DJ Babe, DJ Aziz, dan DJ Rhandy.
Selain mengajarkan teknik, mereka juga membagikan pengalaman mengenai dinamika dunia hiburan dan tantangan yang dihadapi para pelaku industri.
Melalui sekolah DJ ini, Arman berharap pandangan masyarakat terhadap profesi DJ semakin berubah. Menurutnya, DJ merupakan pekerja seni yang layak diapresiasi berdasarkan kualitas karya dan kompetensinya.
“Stigma yang selama ini melekat perlahan harus berubah. DJ adalah pelaku seni. Yang utama adalah kualitas karya dan kompetensinya,” tutur dia. (jpg)
Page: 1 2
Dinamika hubungan antara Kepolisian dan Kejaksaan yang mengemuka di tingkat pusat dinilai berpotensi berdampak hingga…
DPRD Kota Palangka Raya menggelar Rapat Paripurna Ke-9 Masa Persidangan III Tahun Sidang 2025/2026, dengan…
Situasi di kawasan Timur Tengah kembali memanas ke titik krusial. Di tengah suasana pilu masa berkabung nasional…
ARTIS kontroversial Nikita Mirzani kembali mengocok perut sekaligus memanaskan jagat maya berkaitan dengan peristiwa yang…
Memajang tanaman hias daun di dalam atau di teras rumah menjadi salah satu cara agar hunian terasa…
Penyidik Unit Gakkum Satlantas Polresta Banjarmasin menetapkan seorang mahasiswa berinisial NA (19) sebagai tersangka dalam…