Categories: Lifestyle

Kualitas Hubungan Berpengaruh Besar Terhadap Kesehatan Mental

Hubungan yang harmonis membawa perasaan bahagia, aman, dan penuh dukungan emosional. Akan tetapi, ketika konflik terus terjadi dalam hubungan jangka panjang, dampaknya tidak hanya memengaruhi perasaan, tetapi juga kesehatan mental.

Dikutip dari Psychology today, penelitian terbaru dari University of Colorado Boulder menemukan bahwa kualitas hubungan memiliki kaitan kuat dengan meningkatnya risiko depresi.

Banyak ahli berpendapat bahwa depresi lebih dipengaruhi oleh faktor kepribadian, seperti sifat mudah cemas atau pesimistis.

Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa hubungan yang penuh konflik dapat menjadi pemicu depresi, terlepas dari karakter atau riwayat kesehatan mental seseorang.

Dengan kata lain, masalah dalam hubungan bukan sekadar konsekuensi dari depresi, tetapi juga dapat menjadi penyebab munculnya gangguan tersebut.

Penelitian yang melibatkan lebih dari 4.600 orang dewasa ini mengikuti kondisi para peserta selama dua tahun.

Peneliti mengevaluasi kualitas hubungan melalui berbagai indikator, mulai dari seberapa besar pasangan saling memahami hingga seberapa sering kritik atau konflik muncul.

Hasilnya menunjukkan bahwa individu yang berada dalam hubungan bermasalah memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami episode depresi mayor dibanding mereka yang menjalani hubungan sehat.

Temuan tersebut menguatkan konsep relationship distress model of depression, yaitu teori yang menyatakan bahwa tekanan dalam hubungan romantis dapat meningkatkan risiko depresi.

Setelah berbagai faktor lain seperti kepribadian, optimisme, kondisi kesehatan, dan riwayat depresi diperhitungkan, kualitas hubungan tetap menjadi faktor yang berpengaruh terhadap munculnya depresi.

Para peneliti menilai penanganan depresi sebaiknya tidak hanya berfokus pada individu, tetapi juga mempertimbangkan kondisi hubungan yang sedang dijalani.

Terapi pasangan maupun interpersonal psychotherapy dapat menjadi pilihan untuk mengatasi konflik yang berkontribusi terhadap kesehatan mental.

Dengan memperbaiki komunikasi, membangun kembali rasa saling percaya, dan menyelesaikan konflik secara sehat, pasangan berpeluang meningkatkan kesejahteraan emosional mereka bersama.(jpc)

Indar

Recent Posts

KKN UIN Palangka Raya Pererat Silaturahmi 
Lewat Pengajian Manaqib di Murung Raya

Mahasiswa KKN UIN Palangka Raya berpartisipasi dalam pengajian rutin Manaqib Sayyidah Khadijah di Desa Panu’ut,…

7 minutes ago

Program TJSL PLN Perkuat Desa Inklusi, Dorong Kemandirian Ekonomi Difabel di Banjar

Program TJSL PLN mendorong Desa Bi'ih menjadi desa inklusi yang memperkuat kemandirian ekonomi penyandang disabilitas.

2 hours ago

PLN UPT Balikpapan Kirim Tim ERS Percepat Pemulihan Kelistrikan di Sumatra Utara

PLN UPT Balikpapan mengirim Tim ERS dan material pendukung untuk mempercepat pemulihan sistem kelistrikan di…

2 hours ago

Traveling Ternyata Baik untuk Kesehatan Otak dan Kreativitas

Menurut banyak orang liburan hanyalah cara untuk melepas penat. Namun, berbagai temuan di bidang neurosains…

3 hours ago

Alasan Pindah Tempat Tinggal Tidak Selalu Jadi Cara Paling Tepat untuk Move On

Ketika seseorang mengalami putus cinta, kehilangan orang terdekat, perceraian, kegagalan karier, atau pengalaman yang menyakitkan,…

5 hours ago

Bentuk Perhatian Perempuan Kepada Pria Dinilai Menarik Secara Mental dan Emosional

Daya tarik seorang pria tidak selalu ditentukan oleh penampilan fisik atau status sosial. Dalam psikologi…

5 hours ago