JAKARTA – Eskalasi konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang memicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah membuat Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) bergerak cepat. Pemerintah menyiapkan langkah mitigasi hingga skenario evakuasi untuk melindungi ribuan pekerja migran Indonesia di kawasan terdampak.
Menteri P2MI Mukhtarudin menegaskan, sejak situasi memanas, pemerintah langsung mengaktifkan mekanisme crisis management. Monitoring dilakukan setiap hari bersama Kementerian Luar Negeri dan seluruh Perwakilan RI di kawasan Timur Tengah.
“Sejak awal eskalasi, kami aktifkan crisis management. Pemantauan dilakukan harian dan terintegrasi dengan Kementerian Luar Negeri serta Perwakilan RI. Negara tidak menunggu situasi memburuk,” kata Mukhtarudin, Selasa (3/3/2026).
Melalui Direktorat Jenderal Pelindungan, Kementerian P2MI membentuk Tim Crisis Monitoring Geopolitik. Tim ini melakukan pendataan dan pemutakhiran data secara real-time terhadap ribuan pekerja migran Indonesia di negara terdampak, termasuk wilayah yang sempat terkena imbas serangan seperti Qatar dan kawasan sekitar instalasi militer.
Pemetaan zona berisiko tinggi terus diperbarui untuk mendukung pengambilan keputusan cepat dan terukur. Para pekerja migran diimbau menjauhi titik konflik, pangkalan militer, dan lokasi rawan. Jika situasi mengharuskan, mereka diminta berpindah ke tempat yang lebih aman.
Kementerian P2MI juga memperkuat kanal pengaduan guna mengantisipasi laporan ancaman keamanan, keterlambatan gaji, pemutusan hubungan kerja, hingga permintaan repatriasi.
Koordinasi lintas instansi dilakukan intensif dengan Kementerian Luar Negeri dan Perwakilan RI di Teheran, Riyadh, Doha, serta Abu Dhabi. Sinkronisasi data dan penyusunan rencana kontingensi terus dimatangkan, termasuk simulasi evakuasi dan opsi penghentian sementara penempatan ke wilayah berisiko tinggi.
“Kami siapkan berbagai skenario, mulai dari evakuasi sampai pengetatan penempatan. Semua berbasis informasi faktual, koordinasi diplomatik, dan prinsip kehati-hatian,” tegasnya.
Di sisi lain, pengawasan terhadap penempatan non-prosedural diperketat agar tidak ada pihak yang memanfaatkan situasi krisis. Patroli siber dan penguatan literasi digital juga digencarkan untuk mencegah penyebaran informasi tidak terverifikasi yang bisa memicu kepanikan.
Kementerian P2MI mengimbau pekerja migran Indonesia di Timur Tengah tetap tenang dan mengikuti arahan resmi Perwakilan RI. Setiap kondisi darurat diminta segera dilaporkan melalui kanal resmi agar bisa ditindaklanjuti melalui mekanisme pendampingan dan advokasi.
Pemerintah memastikan pelindungan hak-hak pekerja migran tetap menjadi prioritas di tengah dinamika geopolitik global yang terus berkembang. (tim)


