PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalteng diprediksi mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026. Hingga 7 Agustus 2026, BPB-PK Kalteng mencatat 1.027 kejadian Karhutla dengan 6.664 titik panas (hotspot) yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.
Kepala Pelaksana BPB-PK Kalteng Ahmad Toyib mengatakan, peningkatan Karhutla mulai terlihat sejak Juli seiring masuknya musim kemarau berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kondisi tersebut diperkirakan terus meningkat hingga September sehingga kesiapsiagaan personel di darat maupun udara diperkuat.
“Memang sejak Juli kemarin sudah mulai banyak titik api muncul. Kemudian laporan yang kita terima setiap hari juga berkembang terus karena sesuai prediksi BMKG, awal masuk musim kemarau itu bulan Juli dan nanti akan meningkat pada Agustus sampai September,” ujar Toyib, Sabtu (8/8/2026).
Data BPB-PK Kalteng menunjukkan lonjakan signifikan terjadi sepanjang Juli 2026. Pada bulan tersebut tercatat 507 kejadian Karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 1.065,93 hektare.
Sementara hingga 7 Agustus 2026, sudah terjadi 186 kejadian Karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 522,35 hektare.
Toyib mengatakan, salah satu tantangan terbesar dalam penanganan Karhutla adalah karakter lahan gambut. Api di lahan gambut dapat kembali muncul meski sebelumnya sudah dipadamkan karena bara bisa bergerak di bawah permukaan tanah.
“Kalau gambut ini kita tidak bisa membaca pergerakan bara apinya. Bisa dua hari, tiga hari, bahkan seminggu kemudian muncul lagi. Kadang muncul 10 sampai 20 meter dari titik awal karena bara bergerak di bawah permukaan tanah,” katanya.
Karena itu, petugas tidak hanya fokus pada pemadaman. Patroli dan pemantauan tetap dilakukan di lokasi yang sebelumnya terbakar, termasuk pendinginan dan pembasahan berulang untuk mencegah api kembali muncul.
“Walaupun sudah dipadamkan dan tidak ada asap lagi, titik itu tetap kami pantau. Karena karakter gambut memang seperti itu,” tambahnya.
Berdasarkan data akumulasi hingga 7 Agustus 2026, Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 1.120 titik. Berikutnya Pulang Pisau sebanyak 1.015 hotspot, Lamandau 747 hotspot, Sukamara 655 hotspot, dan Kapuas 652 hotspot.
Dari sisi luas lahan terbakar, Kotawaringin Timur juga berada di posisi teratas dengan 472,99 hektare. Kemudian Sukamara 326,25 hektare, Palangka Raya 261,97 hektare, Kotawaringin Barat 214,40 hektare, serta Pulang Pisau 211,58 hektare.
Sementara berdasarkan jumlah kejadian, Kota Palangka Raya menjadi wilayah dengan kasus Karhutla terbanyak, yakni 290 kejadian. Angka tersebut disusul Kotawaringin Timur dengan 186 kejadian dan Kotawaringin Barat sebanyak 112 kejadian.
Menurut Toyib, kondisi cuaca panas yang diperkirakan masih berlangsung hingga September membuat seluruh personel satgas meningkatkan kesiapsiagaan, baik melalui penanganan di darat maupun pemantauan dari udara.
“Kami memperkuat tim darat dan udara, meningkatkan koordinasi serta mempercepat respons penanganan agar kebakaran tidak semakin meluas,” tegasnya.
Dia menambahkan, pada kebakaran lahan gambut dengan skala luas, hujan masih menjadi faktor utama yang dapat membantu memadamkan api secara menyeluruh.
Sementara upaya Satgas Karhutla saat ini difokuskan untuk menahan laju penyebaran api agar kebakaran tidak semakin meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar. (adr)


