31 C
Jakarta
Thursday, July 25, 2024
spot_img

Siap-siap, Fenomena Hari Tanpa Bayangan 21 Juni 2024 Terjadi Lagi di Indonesia

PROKALTENG.CO – Apa itu Hari Tanpa Bayangan? Kulminasi atau transit atau istiwa adalah fenomena saat matahari berada di posisi tertinggi di langit. Hari Tanpa Bayangan akan terjadi di Indonesia.

Jadwal dan lokasi wilayah yang mengalami fenomena Hari Tanpa Bayangan atau Kulminasi Utama telah diumumkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kapan Terjadinya?

Pada tahun 2024, seperti yang dilansir bmkg, pada Rabu (19/6) matahari akan berada di khatulistiwa pada 20 Maret pukul 10.06 WIB dan 22 September pukul 19.43 WIB.

Selain itu, pada 21 Juni pukul 03.50 WIB, matahari akan berada di titik balik Utara, dan pada 21 Desember pukul 16.20 WIB, matahari akan berada di titik balik Selatan.

Baca Juga :  Jiwasraya Rugikan Negara Rp 13 Triliun

Mengingat posisi Indonesia yang berada di sekitar ekuator, kulminasi utama di wilayah Indonesia akan terjadi dua kali dalam setahun, biasanya berdekatan dengan saat Matahari berada di khatulistiwa.

Di kota-kota lain, kulminasi utama terjadi saat deklinasi matahari sama dengan lintang kota tersebut. Khusus untuk Jakarta, fenomena ini terjadi pada 4 Maret 2024, dengan kulminasi utama pada pukul 12.04 WIB, dan pada 8 Oktober 2024, dengan kulminasi utama pada pukul 11.40 WIB.

Secara umum, kulminasi utama di Indonesia pada tahun 2024 terjadi antara 21 Februari 2024 di Baa, Nusa Tenggara Timur, hingga 4 April 2024 di Sabang, Aceh, dan dari 7 September 2024 di Sabang, Aceh, hingga 21 Oktober 2024 di Baa, Nusa Tenggara Timur

Baca Juga :  Mudik Sebelum 6 Mei, Kakorlantas: Silakan Saja, Kita Perlancar

Menurut BMKG, Kulminasi Utama atau Hari Tanpa Bayangan terjadi saat matahari berada di posisi tertinggi di langit, tepat di atas kepala atau di titik zenit.

Akibatnya, bayangan benda tegak akan terlihat ‘menghilang’ karena bayangan bertumpuk dengan benda itu sendiri. Oleh karena itu, fenomena ini dikenal juga sebagai Hari Tanpa Bayangan.

BMKG menyebutkan bahwa Hari Tanpa Bayangan atau Kulminasi Utama terjadi karena bidang ekuator Bumi atau bidang rotasi Bumi tidak sejajar dengan bidang ekliptika atau bidang revolusi Bumi.

Oleh karena itu, posisi matahari dari Bumi tampak terus berubah sepanjang tahun antara 23,5 derajat Lintang Utara (LU) dan 23,5 derajat Lintang Selatan (LS). Fenomena ini dikenal sebagai gerak semu harian matahari. (pri/jawapos.com)

PROKALTENG.CO – Apa itu Hari Tanpa Bayangan? Kulminasi atau transit atau istiwa adalah fenomena saat matahari berada di posisi tertinggi di langit. Hari Tanpa Bayangan akan terjadi di Indonesia.

Jadwal dan lokasi wilayah yang mengalami fenomena Hari Tanpa Bayangan atau Kulminasi Utama telah diumumkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Kapan Terjadinya?

Pada tahun 2024, seperti yang dilansir bmkg, pada Rabu (19/6) matahari akan berada di khatulistiwa pada 20 Maret pukul 10.06 WIB dan 22 September pukul 19.43 WIB.

Selain itu, pada 21 Juni pukul 03.50 WIB, matahari akan berada di titik balik Utara, dan pada 21 Desember pukul 16.20 WIB, matahari akan berada di titik balik Selatan.

Baca Juga :  Jiwasraya Rugikan Negara Rp 13 Triliun

Mengingat posisi Indonesia yang berada di sekitar ekuator, kulminasi utama di wilayah Indonesia akan terjadi dua kali dalam setahun, biasanya berdekatan dengan saat Matahari berada di khatulistiwa.

Di kota-kota lain, kulminasi utama terjadi saat deklinasi matahari sama dengan lintang kota tersebut. Khusus untuk Jakarta, fenomena ini terjadi pada 4 Maret 2024, dengan kulminasi utama pada pukul 12.04 WIB, dan pada 8 Oktober 2024, dengan kulminasi utama pada pukul 11.40 WIB.

Secara umum, kulminasi utama di Indonesia pada tahun 2024 terjadi antara 21 Februari 2024 di Baa, Nusa Tenggara Timur, hingga 4 April 2024 di Sabang, Aceh, dan dari 7 September 2024 di Sabang, Aceh, hingga 21 Oktober 2024 di Baa, Nusa Tenggara Timur

Baca Juga :  Mudik Sebelum 6 Mei, Kakorlantas: Silakan Saja, Kita Perlancar

Menurut BMKG, Kulminasi Utama atau Hari Tanpa Bayangan terjadi saat matahari berada di posisi tertinggi di langit, tepat di atas kepala atau di titik zenit.

Akibatnya, bayangan benda tegak akan terlihat ‘menghilang’ karena bayangan bertumpuk dengan benda itu sendiri. Oleh karena itu, fenomena ini dikenal juga sebagai Hari Tanpa Bayangan.

BMKG menyebutkan bahwa Hari Tanpa Bayangan atau Kulminasi Utama terjadi karena bidang ekuator Bumi atau bidang rotasi Bumi tidak sejajar dengan bidang ekliptika atau bidang revolusi Bumi.

Oleh karena itu, posisi matahari dari Bumi tampak terus berubah sepanjang tahun antara 23,5 derajat Lintang Utara (LU) dan 23,5 derajat Lintang Selatan (LS). Fenomena ini dikenal sebagai gerak semu harian matahari. (pri/jawapos.com)

spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru