33.7 C
Jakarta
Wednesday, July 24, 2024
spot_img

Peran Mulia Perempuan Tidak Hanya Menjadi Ibu

KISAH dan narasi sejarah alternatif di seluruh dunia mencatat bahwa perempuan mampu mengubah perspektif dan tatanan hidup. Sheila Rowbotham dalam Dreamers of A New Day menuliskan andil perempuan dalam mengubah wajah dunia menjadi lebih adil dan setara.

Peran mulia perempuan tidak hanya menjadi ibu. Perempuan adalah perumus sekaligus pengawal kebijakan yang berpihak pada keadilan. ”Semua itu sudah ada buktinya. Bahkan, di Indonesia, perempuan juga pernah menjadi presiden kan,” kata Pinky Saptandari, dosen senior FISIP Universitas Airlangga (Unair), pada Jumat (8/3).

Dewasa ini, semakin banyak perempuan yang menduduki jabatan penting di pemerintahan. Di Surabaya, tidak sedikit perempuan yang menjabat sebagai kepala dinas, camat, ataupun lurah.

”Itu di level pemerintah daerah ya. Di level pusat, menteri perempuan juga banyak yang bagus-bagus dan menorehkan prestasi,” ujar perempuan yang menjabat ketua Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Jawa Timur itu.

Baca Juga :  Generasi Muda Perlu Miliki Kecerdasan Emosional

Capaian partisipasi perempuan di tingkat eksekutif perlu dipertahankan. Demikian pula di tataran parlemen atau legislatif. Jika perlu, standar minimal representasi perempuan di parlemen harus ditingkatkan.

Kuotanya bisa dinaikkan dari yang sekarang 30 persen menjadi 50 persen. Seperti di negara-negara Skandinavia yang perwakilan perempuan di parlemennya merupakan yang tertinggi di dunia.

”Tapi harus didukung dengan dampak yang baik pula untuk perempuan dan masyarakat pada umumnya,” jelas Pinky.

Lebih lanjut Pinky menyatakan, pentingnya mewujudkan sistem yang berpihak kepada perempuan supaya iklim partisipasi perempuan dalam pemerintahan terjaga baik. Tanpa sistem yang baik, peran perempuan dalam mewujudkan pemerintahan yang inklusif akan menjadi semu.

”Masih banyak yang menganggap perempuan tidak layak menjadi pemimpin karena emosional. Ini salah kaprah,” jelasnya. Emosi, imbuh dia, dimiliki perempuan dan laki-laki.

Baca Juga :  Ini Fatwa MUI Terkait Salat Jumat dan Aktivitas Masjid di Tengah Wabah

Kompetisi dalam segala bidang seharusnya didasarkan pada kemampuan dan pengalaman. Dengan demikian, perempuan dan laki-laki punya nilai yang sama tanpa harus menitikberatkan pada gender dan stereotipe.

Di sisi lain, perempuan juga perlu lebih aktif menyuarakan aspirasi mereka. Salah satunya lewat momen International Women’s Day yang diperingati tiap 8 Maret.

”Perempuan harus mampu berpikir kritis. Jangan mau disetir terus. Jangan mau dikooptasi oleh sistem yang tidak berpihak pada perempuan dan anak-anak. Yang bisa memperjuangkan segala kepentingan tersebut ya tentu saja para perempuan itu sendiri,” tandas pakar anthropology of gender and feminism itu. (zam/c19/hep/jpc)

KISAH dan narasi sejarah alternatif di seluruh dunia mencatat bahwa perempuan mampu mengubah perspektif dan tatanan hidup. Sheila Rowbotham dalam Dreamers of A New Day menuliskan andil perempuan dalam mengubah wajah dunia menjadi lebih adil dan setara.

Peran mulia perempuan tidak hanya menjadi ibu. Perempuan adalah perumus sekaligus pengawal kebijakan yang berpihak pada keadilan. ”Semua itu sudah ada buktinya. Bahkan, di Indonesia, perempuan juga pernah menjadi presiden kan,” kata Pinky Saptandari, dosen senior FISIP Universitas Airlangga (Unair), pada Jumat (8/3).

Dewasa ini, semakin banyak perempuan yang menduduki jabatan penting di pemerintahan. Di Surabaya, tidak sedikit perempuan yang menjabat sebagai kepala dinas, camat, ataupun lurah.

”Itu di level pemerintah daerah ya. Di level pusat, menteri perempuan juga banyak yang bagus-bagus dan menorehkan prestasi,” ujar perempuan yang menjabat ketua Badan Koordinasi Kegiatan Kesejahteraan Sosial (BK3S) Jawa Timur itu.

Baca Juga :  Generasi Muda Perlu Miliki Kecerdasan Emosional

Capaian partisipasi perempuan di tingkat eksekutif perlu dipertahankan. Demikian pula di tataran parlemen atau legislatif. Jika perlu, standar minimal representasi perempuan di parlemen harus ditingkatkan.

Kuotanya bisa dinaikkan dari yang sekarang 30 persen menjadi 50 persen. Seperti di negara-negara Skandinavia yang perwakilan perempuan di parlemennya merupakan yang tertinggi di dunia.

”Tapi harus didukung dengan dampak yang baik pula untuk perempuan dan masyarakat pada umumnya,” jelas Pinky.

Lebih lanjut Pinky menyatakan, pentingnya mewujudkan sistem yang berpihak kepada perempuan supaya iklim partisipasi perempuan dalam pemerintahan terjaga baik. Tanpa sistem yang baik, peran perempuan dalam mewujudkan pemerintahan yang inklusif akan menjadi semu.

”Masih banyak yang menganggap perempuan tidak layak menjadi pemimpin karena emosional. Ini salah kaprah,” jelasnya. Emosi, imbuh dia, dimiliki perempuan dan laki-laki.

Baca Juga :  Ini Fatwa MUI Terkait Salat Jumat dan Aktivitas Masjid di Tengah Wabah

Kompetisi dalam segala bidang seharusnya didasarkan pada kemampuan dan pengalaman. Dengan demikian, perempuan dan laki-laki punya nilai yang sama tanpa harus menitikberatkan pada gender dan stereotipe.

Di sisi lain, perempuan juga perlu lebih aktif menyuarakan aspirasi mereka. Salah satunya lewat momen International Women’s Day yang diperingati tiap 8 Maret.

”Perempuan harus mampu berpikir kritis. Jangan mau disetir terus. Jangan mau dikooptasi oleh sistem yang tidak berpihak pada perempuan dan anak-anak. Yang bisa memperjuangkan segala kepentingan tersebut ya tentu saja para perempuan itu sendiri,” tandas pakar anthropology of gender and feminism itu. (zam/c19/hep/jpc)

spot_img
spot_img

Terpopuler

spot_img

Artikel Terbaru