alexametrics
23.4 C
Palangkaraya
Friday, August 19, 2022

Lampaui Cina dan Italia, Kasus Corona di AS Tertinggi di Dunia

JUMLAH pasien infeksi virus Corona (Covid-19) di Amerika Serikat
pada Jumat (27/3) telah mencapai 85.377 kasus. Sedangkan jumlah kematian pasien
mencapai 1.295 orang. Dengan demikian, kasus Covid-19 AS sudah melampaui di
Cina dan Italia.

Jumlah kasus corona di AS
melonjak sangat tinggi setelah Negeri Paman Sam menemukan 17.166 kasus positif
corona baru dan 268 kematian dalam sehari kemarin.

Akan tetapi, Organisasi Kesehatan
Dunia (WHO) mencatat ada 63.570 kasus virus corona di Amerika Serikat, dengan
884 kematian.

Kasus virus corona di AS menyebar
ke seluruh 50 negara bagian. Dilansir The Guardian, kasus virus corona
terbanyak terdapat di Negara Bagian New York dengan total 37.877 kasus dan 385
kematian per hari ini.

Melansir CNN, Jumat (27/3), lonjakan
besar kasus corona ini membuat rumah sakit di AS kewalahan karena permintaan
fasilitas kesehatan yang terus meningkat sementara tenaga dan alat medis
terbatas.

Salah satu rumah sakit di New
York, New York Bellevue Hospital Center, bahkan terpaksa membangun kamar mayat
darurat menggunakan tenda dan truk pendingin lantaran keterbatasan kapasitas
ruangan.

Salah satu perawat di Rumah Sakit
Long Island menuturkan jumlah pasien yang masuk sudah melebihi kapasitas yang
bisa ditangani petugas medis hingga mengancam kesehatan para perawat dan
dokter.

Baca Juga :  Malaysia Sudah Lockdown 2 Bulan, Begini Kondisinya Sekarang

“Saya belum tidur karena pikiran
saya terus bergeming saya tidak mau mati. Saya menangis di kamar mandi saat
istirahat, ketika saya melepas baju APD dari tubuh saya yang berkeringat, saya
membuka masker wajah dan itu benar-benar membekas di wajah saya. Saya menangis
sepanjang perjalanan pulang,” ucap perawat itu dalam tulisannya di media sosial
pribadi.

Perawat yang tak disebutkan
namanya itu mengatakan, setiap orang yang masuk ke rumah sakit selalu “batuk tanpa
henti, berkeringat, demam, dan ketakutan di wajah mereka.”

“Saya menangis untuk orang yang
meninggal. Saya menangis karena kami di sini mengintubasi lima pasien hanya
dalam 10 menit dan saya ketakutan. Saya menangis untuk rekan kerja saya, karena
kami tahu ini akan menjadi lebih buruk,” paparnya.

Sejumlah rumah sakit di AS bahkan
bersiap menghadapi kekurangan tempat tidur dalam dua pekan ke depan lantaran
pasien corona yang terus berdatangan.

Salah satu mantan kepala dinas
kesehatan Louisiana, dr. Rebekah Gee, menuturkan jika rumah sakit telah banyak
kekurangan tempat tidur, mereka tidak bisa secara maksimal menyelamatkan lebih
banyak nyawa yang harus diselamatkan.

“Karena itu peraturan karantina
mandiri dan berdiam diri di rumah itu sangat penting. Saat ini kita belum
berada di puncak krisis korona,” kata Gee.

Baca Juga :  Polisi Chauvin Kenal George Floyd, Pengacara: Ini Pembunuhan Berencana

Menurut studi Institut Kesehatan
Global Universitas Harvard penyebaran wabah pandemi ini masih akan berlangsung
setidaknya 12-18 bulan ke depan.

“Kita akan hidup dalam situasi
seperti ini dalam berbagai bentuk untuk setidaknya 12-18 bulan ke depan jika
kita beruntung,” kata direktur institut tersebut, dr. Ashish Jha.

Negara Bagian New York bahkan
mulai mengizinkan petugas medis menggunakan ventilator untuk dua pasien
sekaligus demi menyiasati kekurangan alat pendukung medis.

Gubernur New York, Andrew Cuomo,
menuturkan seluruh rumah sakit di negaranya masih memiliki setidaknya 30 ribu
ventilator dan alat pelindung petugas medis yang bisa bertahan setidaknya untuk
dua pekan ke depan.

“Saya tahu cara ini tidak ideal
tetapi saya yakin cara ini akan bekerja,” kata Cuomo.

Tak hanya sektor kesehatan, wabah
corona juga telah mempengaruhi perekonomian AS menyusul penutupan berbagai
jenis usaha dan bisnis.

Penutupan bisnis ini pun berimbas
terhadap para pekerja yang diberhentikan. Pekan ini, terhitung sudah ads 3.3
juta warga AS yang mengajukan klaim pengangguran karena berhenti dari
pekerjaannya akibat krisis wabah ini.

Jumlah klaim ini yang tertinggi
sejak 1967 lalu.

JUMLAH pasien infeksi virus Corona (Covid-19) di Amerika Serikat
pada Jumat (27/3) telah mencapai 85.377 kasus. Sedangkan jumlah kematian pasien
mencapai 1.295 orang. Dengan demikian, kasus Covid-19 AS sudah melampaui di
Cina dan Italia.

Jumlah kasus corona di AS
melonjak sangat tinggi setelah Negeri Paman Sam menemukan 17.166 kasus positif
corona baru dan 268 kematian dalam sehari kemarin.

Akan tetapi, Organisasi Kesehatan
Dunia (WHO) mencatat ada 63.570 kasus virus corona di Amerika Serikat, dengan
884 kematian.

Kasus virus corona di AS menyebar
ke seluruh 50 negara bagian. Dilansir The Guardian, kasus virus corona
terbanyak terdapat di Negara Bagian New York dengan total 37.877 kasus dan 385
kematian per hari ini.

Melansir CNN, Jumat (27/3), lonjakan
besar kasus corona ini membuat rumah sakit di AS kewalahan karena permintaan
fasilitas kesehatan yang terus meningkat sementara tenaga dan alat medis
terbatas.

Salah satu rumah sakit di New
York, New York Bellevue Hospital Center, bahkan terpaksa membangun kamar mayat
darurat menggunakan tenda dan truk pendingin lantaran keterbatasan kapasitas
ruangan.

Salah satu perawat di Rumah Sakit
Long Island menuturkan jumlah pasien yang masuk sudah melebihi kapasitas yang
bisa ditangani petugas medis hingga mengancam kesehatan para perawat dan
dokter.

Baca Juga :  Malaysia Sudah Lockdown 2 Bulan, Begini Kondisinya Sekarang

“Saya belum tidur karena pikiran
saya terus bergeming saya tidak mau mati. Saya menangis di kamar mandi saat
istirahat, ketika saya melepas baju APD dari tubuh saya yang berkeringat, saya
membuka masker wajah dan itu benar-benar membekas di wajah saya. Saya menangis
sepanjang perjalanan pulang,” ucap perawat itu dalam tulisannya di media sosial
pribadi.

Perawat yang tak disebutkan
namanya itu mengatakan, setiap orang yang masuk ke rumah sakit selalu “batuk tanpa
henti, berkeringat, demam, dan ketakutan di wajah mereka.”

“Saya menangis untuk orang yang
meninggal. Saya menangis karena kami di sini mengintubasi lima pasien hanya
dalam 10 menit dan saya ketakutan. Saya menangis untuk rekan kerja saya, karena
kami tahu ini akan menjadi lebih buruk,” paparnya.

Sejumlah rumah sakit di AS bahkan
bersiap menghadapi kekurangan tempat tidur dalam dua pekan ke depan lantaran
pasien corona yang terus berdatangan.

Salah satu mantan kepala dinas
kesehatan Louisiana, dr. Rebekah Gee, menuturkan jika rumah sakit telah banyak
kekurangan tempat tidur, mereka tidak bisa secara maksimal menyelamatkan lebih
banyak nyawa yang harus diselamatkan.

“Karena itu peraturan karantina
mandiri dan berdiam diri di rumah itu sangat penting. Saat ini kita belum
berada di puncak krisis korona,” kata Gee.

Baca Juga :  Kecanduan Seks, Selebram Ini Bisa Begituan 11 Kali Sehari

Menurut studi Institut Kesehatan
Global Universitas Harvard penyebaran wabah pandemi ini masih akan berlangsung
setidaknya 12-18 bulan ke depan.

“Kita akan hidup dalam situasi
seperti ini dalam berbagai bentuk untuk setidaknya 12-18 bulan ke depan jika
kita beruntung,” kata direktur institut tersebut, dr. Ashish Jha.

Negara Bagian New York bahkan
mulai mengizinkan petugas medis menggunakan ventilator untuk dua pasien
sekaligus demi menyiasati kekurangan alat pendukung medis.

Gubernur New York, Andrew Cuomo,
menuturkan seluruh rumah sakit di negaranya masih memiliki setidaknya 30 ribu
ventilator dan alat pelindung petugas medis yang bisa bertahan setidaknya untuk
dua pekan ke depan.

“Saya tahu cara ini tidak ideal
tetapi saya yakin cara ini akan bekerja,” kata Cuomo.

Tak hanya sektor kesehatan, wabah
corona juga telah mempengaruhi perekonomian AS menyusul penutupan berbagai
jenis usaha dan bisnis.

Penutupan bisnis ini pun berimbas
terhadap para pekerja yang diberhentikan. Pekan ini, terhitung sudah ads 3.3
juta warga AS yang mengajukan klaim pengangguran karena berhenti dari
pekerjaannya akibat krisis wabah ini.

Jumlah klaim ini yang tertinggi
sejak 1967 lalu.

Most Read

Artikel Terbaru

Merdeka Kepundungan

Momen HUT RI, Bangkit dari Keterpurukan

Gangguan Kesenangan

/