alexametrics
23.2 C
Palangkaraya
Thursday, August 18, 2022

Gelombang Protes Anti Pemerintah yang Mengguncang Dunia

Unjuk rasa anti
pemerintah terus bermunculan di berbagai negara. Beberapa aksi sudah mulai
teredam. Sebagian besar lagi masih membara. Yang jelas, gelombang protes itu
datang dari generasi muda yang sudah muak dengan situasi sekarang.

MOCHAMAD SALSABYL ADNJawa Pos

”ROUHANI, pergilah dari negara ini! Sendirian!” Teriakan
itu terdengar dalam video yang beredar dan sampai di tangan Associated
Press
. Menurut rumor, adegan itu menunjukkan ketegangan di pom bensin Kota
Sirjan. Mereka berusaha membakar tempat tersebut meski dapat dicegah aparat.

Di beberapa kota
besar, mereka melakukan aksi damai untuk memprotes Presiden Hassan Rouhani.
Mereka menganggap kenaikan harga BBM sebesar 50 persen sudah keterlaluan. Kini
warga harus membayar 15 ribu riyal (Rp 5 ribu) per liter bensin. Kalau jatah 60
liter habis, mereka harus membayar dua kali lipat.

Harga tersebut cukup
tinggi lantaran Iran punya cadangan minyak bumi 155 miliar barel. Sebelumnya,
mereka hanya butuh membayar 10 ribu riyal alias Rp 3 ribu per liter. ”Di negara
mana pun kenaikan BBM sudah pasti menggoyang kancah politik. Hal yang serupa
terjadi pada pemerintahan Rouhani 2017 lalu,” ujar Henry Rome, analis Eurasia
Group.

Iran boleh jadi masuk
daftar negara yang baru-baru ini terguncang aksi unjuk rasa. Dewasa ini, rakyat
di banyak negara sepertinya menunjukkan ketidakpuasan terhadap pemerintah.
Mulai bangsa Amerika Latin, Timur Tengah, Eropa, hingga Asia ikut dalam
gelombang demo anti pemerintah.

Baca Juga :  Perolehan Suara Sama, Pemenang Pemilu di Negara Ini Ditentukan dengan

Pemicunya
berbeda-beda. Terkadang, kebijakan kecil pun bisa membuat rakyat mengamuk.
Misalnya, pajak terhadap telepon WhatsApp di Lebanon dan
kenaikan tarif kereta di Cile. Namun, ada satu yang sama. Kelompok pemuda yang
sering dicap rezim pemerintah sebagai radikal.

”Pemudalah yang merasa
muak. Mereka tak percaya terhadap elite politik dan ekonomi yang dipandang
korup,” ujar Ali Soufan, kepala konsultan intelijen Soufan Group, kepada New
York Times
.

Pemicu demo skala
besar, sering kali berdarah-darah, tersebut memang berbeda dan kadang terkesan
remeh. Namun, itu hanya percikan terhadap kemarahan yang selama ini dipendam
warga. Sebagian besar negara yang dilanda protes sudah lebih dulu dilanda isu
ketimpangan sosial ekonomi, kemacetan demokrasi, dan kepercayaan bahwa semua
bisa berubah.

Cile, misalnya. Negara
yang dipimpin Sebastian Pinera itu merupakan negara terkaya di Amerika Latin.
Namun, negara tersebut juga punya rasio ketimpangan yang luar biasa. Warga
menengah ke bawah sudah lama frustrasi karena sulit bertahan di ibu kota
Santiago.

”Data menunjukkan
bahwa angka unjuk rasa hampir setara dengan periode 1960-an,” ujar Jacquelien
van Stekelenburg, pakar di bidang perubahan sosial dan konflik di Vrije
University Amsterdam, kepada The Guardian.

Baca Juga :  Alhamdulillah, Arab Saudi Kembali Bukan Ibadah Umrah

Sentimen negatif
rakyat kecil terhadap kaum berada makin keras. Faktanya, 26 tokoh terkaya
memiliki kekayaan setara dengan setengah populasi kaum miskin. Hal tersebut
juga ditunjang era keterbukaan informasi. Mereka semakin melihat bagaimana
orang lain hidup di negara lain. Itu menimbulkan acuan untuk mengetahui apakah
kehidupan mereka memang layak.

”Pemuda dalam gerakan
Arab Spring pasti tahu bagaimana penduduk di luar negeri hidup. Hal itu
menciptakan rasa iri,” ujar Stekelenburg.

Zaman sudah berubah.
Generasi muda pun mulai melek isu sosial politik. Mereka tak lagi puas dengan
pemilu sebagai bukti demokrasi. Sebab, negara-negara yang sudah mengubah sistem
penunjukan langsung menjadi pemilu pun tak memberikan kebebasan yang
diinginkan.

Bahkan, beberapa
negara sembunyi-sembunyi bergerak kembali ke rezim otoriter. Itu adalah hasil
dari penelitian yang dilakukan Anna Lurhmann and Staffan Lindberg dari
University of Gothenburg, Swedia. Banyak yang memanipulasi hasil pemilu,
mengubah undang-undang, dan melumpuhkan oposisi untuk mempertahankan kekuasaan.

”Demokrasi dangkal
seperti itu pasti menghadirkan unjuk rasa untuk menghilangkan monopoli politik
mereka,” ujar Seva Gunistky, pakar politik dari University of Toronto.(jpc)

 

Unjuk rasa anti
pemerintah terus bermunculan di berbagai negara. Beberapa aksi sudah mulai
teredam. Sebagian besar lagi masih membara. Yang jelas, gelombang protes itu
datang dari generasi muda yang sudah muak dengan situasi sekarang.

MOCHAMAD SALSABYL ADNJawa Pos

”ROUHANI, pergilah dari negara ini! Sendirian!” Teriakan
itu terdengar dalam video yang beredar dan sampai di tangan Associated
Press
. Menurut rumor, adegan itu menunjukkan ketegangan di pom bensin Kota
Sirjan. Mereka berusaha membakar tempat tersebut meski dapat dicegah aparat.

Di beberapa kota
besar, mereka melakukan aksi damai untuk memprotes Presiden Hassan Rouhani.
Mereka menganggap kenaikan harga BBM sebesar 50 persen sudah keterlaluan. Kini
warga harus membayar 15 ribu riyal (Rp 5 ribu) per liter bensin. Kalau jatah 60
liter habis, mereka harus membayar dua kali lipat.

Harga tersebut cukup
tinggi lantaran Iran punya cadangan minyak bumi 155 miliar barel. Sebelumnya,
mereka hanya butuh membayar 10 ribu riyal alias Rp 3 ribu per liter. ”Di negara
mana pun kenaikan BBM sudah pasti menggoyang kancah politik. Hal yang serupa
terjadi pada pemerintahan Rouhani 2017 lalu,” ujar Henry Rome, analis Eurasia
Group.

Iran boleh jadi masuk
daftar negara yang baru-baru ini terguncang aksi unjuk rasa. Dewasa ini, rakyat
di banyak negara sepertinya menunjukkan ketidakpuasan terhadap pemerintah.
Mulai bangsa Amerika Latin, Timur Tengah, Eropa, hingga Asia ikut dalam
gelombang demo anti pemerintah.

Baca Juga :  Singapura Bakal Izinkan Perjalanan Bebas Karantina pada September

Pemicunya
berbeda-beda. Terkadang, kebijakan kecil pun bisa membuat rakyat mengamuk.
Misalnya, pajak terhadap telepon WhatsApp di Lebanon dan
kenaikan tarif kereta di Cile. Namun, ada satu yang sama. Kelompok pemuda yang
sering dicap rezim pemerintah sebagai radikal.

”Pemudalah yang merasa
muak. Mereka tak percaya terhadap elite politik dan ekonomi yang dipandang
korup,” ujar Ali Soufan, kepala konsultan intelijen Soufan Group, kepada New
York Times
.

Pemicu demo skala
besar, sering kali berdarah-darah, tersebut memang berbeda dan kadang terkesan
remeh. Namun, itu hanya percikan terhadap kemarahan yang selama ini dipendam
warga. Sebagian besar negara yang dilanda protes sudah lebih dulu dilanda isu
ketimpangan sosial ekonomi, kemacetan demokrasi, dan kepercayaan bahwa semua
bisa berubah.

Cile, misalnya. Negara
yang dipimpin Sebastian Pinera itu merupakan negara terkaya di Amerika Latin.
Namun, negara tersebut juga punya rasio ketimpangan yang luar biasa. Warga
menengah ke bawah sudah lama frustrasi karena sulit bertahan di ibu kota
Santiago.

”Data menunjukkan
bahwa angka unjuk rasa hampir setara dengan periode 1960-an,” ujar Jacquelien
van Stekelenburg, pakar di bidang perubahan sosial dan konflik di Vrije
University Amsterdam, kepada The Guardian.

Baca Juga :  Cegah Penularan Virus Corona di Penjara, Iran Bebaskan 10 Ribu Napi

Sentimen negatif
rakyat kecil terhadap kaum berada makin keras. Faktanya, 26 tokoh terkaya
memiliki kekayaan setara dengan setengah populasi kaum miskin. Hal tersebut
juga ditunjang era keterbukaan informasi. Mereka semakin melihat bagaimana
orang lain hidup di negara lain. Itu menimbulkan acuan untuk mengetahui apakah
kehidupan mereka memang layak.

”Pemuda dalam gerakan
Arab Spring pasti tahu bagaimana penduduk di luar negeri hidup. Hal itu
menciptakan rasa iri,” ujar Stekelenburg.

Zaman sudah berubah.
Generasi muda pun mulai melek isu sosial politik. Mereka tak lagi puas dengan
pemilu sebagai bukti demokrasi. Sebab, negara-negara yang sudah mengubah sistem
penunjukan langsung menjadi pemilu pun tak memberikan kebebasan yang
diinginkan.

Bahkan, beberapa
negara sembunyi-sembunyi bergerak kembali ke rezim otoriter. Itu adalah hasil
dari penelitian yang dilakukan Anna Lurhmann and Staffan Lindberg dari
University of Gothenburg, Swedia. Banyak yang memanipulasi hasil pemilu,
mengubah undang-undang, dan melumpuhkan oposisi untuk mempertahankan kekuasaan.

”Demokrasi dangkal
seperti itu pasti menghadirkan unjuk rasa untuk menghilangkan monopoli politik
mereka,” ujar Seva Gunistky, pakar politik dari University of Toronto.(jpc)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/